Subhanallah,,sungguh indah CiptaanNya

Subhanallah,,sungguh indah CiptaanNya
Gunung Sawal, desa Panjalu, Ciomas, Jawa Barat

Jumat, 26 Februari 2010

Musibah Longsor Akibat perbuatan manusia kah?

Innalillahi Wainna ilaihi Raji'uun..
Bencana terjadi di seluruh penjuru Indonesia..Gempa di Sumatera Barat dan Tasikmalaya,,
Banjir di Sumatera Selatan dan Bandung Selatan, Longsor di Garut, dan kali ini Longsor di CIWIDEY..
Smoga Kita semakin Sadar dan Bermuhasabah diri..


Saya ingin sedikit memberikan tanggapan terkait apa yang bapak Gubernur Ahmad Heryawan sampaikan di wawancara TV one, bahwa musibah Di Ciwidey merupakan "mekanisme ilmiah yang pencegahannya dengan deteksi dini dari ahli geologis terhadap potensi longsor",

Menurut saya ,,
Permasalahan Utamanya adalah Peralihan Fungsi lahan dimana seharusnya daerah itu yang awalnya merupakan daerah kawasan Hutan Lindung sbagai daerah serapan,,saat ini telah tergantikan menjadi perkebunan teh dan sayuran..

Jika kita perhatikan,,jarang sekali longsor terjadi di daerah perkebunan teh..Apalagi setelah saya perhatikan bahwa kemiringan lahan tersebut hanya sekitar 45 derajat..Sangat Mengerikan sebenarnya jika terjadi longsor di daerah yang sebenarnya tidak berpotensi longsor.


Salah satu Kearifan Lokal masyarakat sunda adalah “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara),,

Pembangunan di JaBar ini harus berorientasi pada filosofis Sunda tersebut,, karena AIR merupakan unsur utama kehidupan manusia, dan pembangunan kita harus menjaga ketersediaan air yaitu dengan menjaga daerah serapan di Hulu..

Banyak sekali terjadi alih fungsi lahan yang seharusnya daerah tersebut merupakan leuweung larangan atau leuweung tutupan yang tidak boleh di alih fungsikan..

Sebenarnya menjadi suatu hal yang dilematis ketika kita dihadapkan pada plihan untuk membangun berorientasikan lingkungan atau kah perkonomian..

Di satu sisi :
peningkatan ekonomi masyarakat seiring dengan semakin meledaknya pertumbuhan penduduk sangatlah penting untuk dilakukan, bahkan sampai harus dengan mengalihfungsikan lahan yang seharusnya daerah kawasan hutan lindung (serapan) menjadi kawasan perkotaan atau perkebunan masyarakat

Fenomena tersebut lah yang banyak terjadi dalam pembangunan di Indonesia, dan Jabar Pada khususnya..
Seharusnya kita memperhatikan keseimbangan alam dan juga daya dukung lahan daripada hanya berorientasikan pada perekonomian.

Apakah kita lebih memilih untuk Kepuasan sesaat saja dibandingkan dengan Keberlanjutan hidup manusia kedepannya?
Apakah kita lebih memilih Perut Kenyang dibandingkan dengan takut terhadap BENCANA??


teman2 pangasuh bumi (sbuah organisasi masyarakat yang bergerak untuk mengembalikan Kearifan lokal Sunda kita dalam menjaga keseimbangan hidup antara manusia dengan alam)

Sebaiknya kita perlu banyak belajar dari Kearifan Lokal Sunda yang sudah lama hilang. Saya melalui teman2 Pangasuh Bumi sangatlah kagum ketika mengetahui Pola pikir, dan pengetahuan masyarakat Badui, Kampung Naga yang luar biasa.

Salah satu Kearifan Lokal masyarakat sunda adalah
“Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara),,
Pembangunan di JaBar ini harus berorientasi pada filosofis Sunda tersebut,, karena AIR merupakan unsur utama kehidupan manusia, dan pembangunan kita harus menjaga ketersediaan air yaitu dengan menjaga daerah serapan di Hulu..

Smoga TUlisan singkat ini bisa turut memberikan sebuah solusi terhadap permasalahan lingkungan yang saat ini semakin mengerikan,,
Bencana akan semakin banyak terjadi kalo kita semua yang menghuni bumi ini SERAKAH dan tidak peduli dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Ingat,,kita memegang amanah yang berat,,"Khalifah di Muka Bumi ini"


0 comments:

Poskan Komentar