FIKIH LINGKUNGAN DAN KEHIDUPAN PDF Print E-mail
Wednesday, 07 October 2009 07:47
Oleh: Hasibullah Satrawi
Musibah alam terus menerjang kehidupan bangsa ini. Korban gempa di Jawa Barat belum tertangani secara tuntas, kini gempa yang tak kalah dahsyat kembali menerjang Sumatera Barat.
Ratusan (atau bahkan mungkin ribuan) anak bangsa kembali menjadi korban bencana yang tak lain akibat kesalahan manusia. Rasanya sudah habis air mata bangsa ini karena menangisi semua bencana yang terus memorakporandakan, mulai tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, lumpur Lapindo di Sidoarjo, gempa Jawa Barat, jebolnya Tanggul Situ Gintung,dan sekarang gempa Sumatera Barat. Rasanya sudah habis kata-kata yang dapat digunakan untuk melukiskan kesedihan akibat pelbagai macam musibah yang terus terjadi hingga hari ini,seperti banjir “langganan” di setiap musim hujan,longsor,dan lain sebagainya.
Kesalahan Bersama
Semua pihak harus mengambil pelajaran baik sekaligus melakukan refleksi menyeluruh atas semua tingkah laku selama ini.Karena secara rasional,semua bencana yang terjadi dipastikan karena sebuah kesalahan. Dan secara normatif keagamaan, semua bencana yang terjadi tak lain akibat ulah perbuatan manusia (Qs.Ar-Rum: 41).
Patut diperhatikan, sebuah musibah tidak memilah-milih pihak yang melakukan kesalahan atau yang tidak melakukan kesalahan. Semua pihak akan merasakan pahitnya akibat kesalahan yang telah dilakukan: iza nazala al- ‘azab ‘amma as-shaleh wa at-thaleh (azab tak akan memilah-milih mereka yang saleh atau thaleh).
Semua bencana dan musibah yang telah terjadi dengan cukup jelas menampakkan bagaimana akibat sebuah kesalahan,terutama terhadap lingkungan.Semua musibah yang terjadi juga menampakkan bagaimana dia tidak memilahmilih mereka yang memang melakukan kesalahan (thaleh) dan yang tidak melakukan kesalahan (saleh).
Semuanya merasakan dampak buruknya. Itu sebabnya, sebelum sebuah kesalahan berakhir dengan musibah, agama senantiasa menganjurkan agar umat manusia saling mengingatkan dalam kebenaran dan saling mengingatkan dalam kesabaran (tawashaw bil haqqi watawashaw bis shabri).
Ironisnya, dalam rangka menegakkan ajaran saling mengingatkan seperti di atas, tidak sedikit pihak yang justru (juga) melakukan kesalahan dalam bentuk yang berbeda, baik terkait dengan cara, pemahaman, pendekatan dan lain sebagainya. Hingga yang terjadi adalah akumulasi kesalahan: mengingatkan hal yang salah dengan kesalahan yang lain.
Pertanyaannya adalah, kesalahan apa yang sudah dilakukan bangsa ini? Hingga musibah alam terus terjadi seperti sekarang. Dalam hemat penulis (tanpa bermaksud menyalahkan pihak-pihak tertentu), setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan bersama ke depan. Pertama, perhatian terhadap lingkungan.Bisa dikatakan, bangsa ini sejauh ini abai terhadap lingkungan.
Di mana pengabaian ini dilakukan secara berjamaah, mulai pemerintah, para pelaku usaha,masyarakat umum atau bahkan kalangan agamawan sekalipun. Pemerintah abai karena lingkungan acap tak diperhatikan dalam kebijakan yang diambilnya. Para pelaku usaha dan masyarakat umum pun demikian.
Hingga terjadi pelbagai kerusakan dan perusakan lingkungan, seperti kebakaran dan pembakaran hutan,penebangan pohon secara tak bertanggung jawab, penumpukan sampah,pembangunan di daerah-daerah serapan dan masih banyak lagi yang lainnya. Begitu juga dengan kalangan agamawan. Hal ini terlihat jelas dalam dakwah-dakwah yang mereka sampaikan.
Di mana dakwahdakwah mereka acap tak memperhatikan pentingnya bersikap ramah dan peduli terhadap lingkungan. Setidak-tidaknya, kalangan agamawan acap bersikap tidak adil terhadap lingkungan.Dakwah mereka lebih menekankan pada pentingnya hal-hal yang bersifat ritualukhrawi seperti ibadah dan lain sebagainya.
Hal ini tidak berarti bahwa muatan ritual-ukhrawi dalam dakwah merupakan kesalahan. Karena ibadah dan keakhiratan selamanya bersifat mutlak dalam dunia keagamaan. Mengingat salah satu tujuan akhir dari beragama adalah keselamatan nanti di akhirat. Kesalahannya adalah (bila boleh dikatakan demikian) manakala perhatian terhadap lingkungan bersifat tidak adil, apalagi diabaikan sama sekali.
Bagaimanapun dan dalam kondisi apa pun,agama tetap memperhatikan lingkungan dan kehidupan. Itu sebabnya, seorang muslim senantiasa dianjurkan untuk berdoa kepada Tuhan dalam rangka meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat (rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah). Kedua, perhatian terhadap kehidupan di dunia.
Sejauh ini, ada beberapa pihak di negeri ini yang kurang memperhatikan kehidupan di dunia, atau setidaknya menomorduakan kehidupan di dunia dengan alasan, dunia penuh dengan keburukan dan kemungkaran. Lebih daripada itu karena kehidupan dunia bersifat sementara. Hanyalah kehidupan di akhirat yang abadi.
Tidak ada yang salah dari keyakinan di atas. Juga tidak salah meyakini kehidupan dunia bersifat sementara dan hanyalah akhirat yang abadi.Tapi yang harus diperhatikan adalah,keselamatan abadi di akhirat nanti ditentukan perbuatan di dunia yang sementara ini.Kehidupan dunia adalah tempat “bercocok tanam” untuk bisa panen di akhirat nanti. Oleh karenanya, perhatian terhadap akhirat tidak bisa mengabaikan amal perbuatan di dunia.
Dengan kata lain,demi keselamatan di akhirat, seseorang harus berbuat baikdidunia, termasukkepadaalam semesta.Kehidupan di dunia dan di akhirat bagaikan sebab-akibat. Berbuat baik di dunia (termasuk kepada alam dan lingkungan),insya Allah dapat kebaikan juga di akhirat.Begitu juga sebaliknya. Bila tidak demikian, maka kita akan tersesat seperti para teroris yang menghalalkan segala macam yang diharamkan untuk mencapai keselamatan di akhirat.
Bukan hanya lingkungan yang dirusak, melainkan juga kehidupan diri sendiri dan orang lain. Kehidupan adalah karunia paling indah dan paling berharga yang diberikan Tuhan secara langsung kepada seluruh makhluk- Nya, terutama manusia yang berakal budi.Tidak ada satu pihak pun (kecuali Tuhan) yang mampu memberikan kehidupan kepada pihak lain.
Oleh karenanya, tidak ada satu orang pun yang diperbolehkan mengambil karunia paling mulia ini dari orang lain, juga kehidupan diri sendiri (bunuh diri). Semua aturan, ajaran dan agama yang diturunkan Tuhan tak lain untuk melestarikan kehidupan manusia, di dunia terlebih dahulu dan kemudian di akhirat nanti.
Imam Al-Ghazali yang menjadi panutan mayoritas umat muslim di Indonesia menjadikan kehidupan manusia sebagai salah satu dari lima hal pokok yang harus dilestarikan manusia, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda (Al-Mustashfa,vol. I: 438).
Bahkan, kehidupan (ruh atau nyawa) menjadi salah satu rahasia utama Tuhan yang tak mungkin “dibuka” oleh manusia dan makhluk-makhluk yang lain. Dengan akal dan hal-hal istimewa lainnya, manusia bisa melakukan apa pun. Tapi manusia tidak mampu menciptakan kehidupan sebagaimana Tuhan menciptakan nya dan memberikannya kepada segenap makhluk-Nya secara cuma-cuma.
Dimensi Kekhilafahan
Dua hal di atas merupakan dimensi kekhilafahan manusia (dari Tuhan) di muka bumi ini. Dengan kata lain,Tuhan menjadikan manusia di muka bumi sebagai wakil atau khalifah tak lain untuk mengurus kehidupan di dunia dan lingkungan.
Mengurus kehidupan (bukan kematian) adalah tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada manusia. Begitu juga dengan mengurus lingkungan dan alam semesta. Persoalannya adalah, karena satu dan lain hal, dua dimensi kekhilafahan di atas acap diabaikan manusia.
Hingga manusia terjebak ke dalam perbuatan yang sempat menjadi “keberatan” malaikat tatkala Tuhan hendak menjadikan manusia sebagai khalifah: apakah Engkau (Tuhan) hendak menjadikan makhluk yang sering melakukan perusakan dan menumpahkan darah sebagai khalifah (Qs. Al- Baqarah:30).
Satu hal yang harus disadari sekaligus perlu dikembangkan ke depan bahwa dalam ayat di atas Tuhan menolak “keberatan”malaikat dan membela manusia dengan mengatakan, Aku mengetahui yang tidak kalian ketahui.Tak lain karena manusia mempunyai akal dan kecerdasan.
Akal dan kecerdasan manusia harus digunakan untuk kembali pada dimensi kekhilafahan di atas, yaitu memakmurkan lingkungan dan melestarikan kehidupan. Inilah yang penulis sebut sebagai fikih lingkungan dan kehidupan. Di akhir tulisan ini,penulis meminta kesediaan pembaca untuk berdoa bersama sejenak: Tuhan bila semua ini adalah cobaan, berilah bangsa ini kekuatan untuk menghadapinya.
Bila semua ini adalah pembelajaran, berikanlah bangsa ini kecerdasan untuk memahaminya. Bila semua ini adalah peringatan, berikanlah bangsa ini kemampuan untuk segera memperbaiki kesalahannya. Dan bila semua ini adalah azab, ampunilah bangsa ini. Tuhan, sebagaimana Nabi Muhammad pernah berdoa kepadamu, berikanlah petunjuk kepada kaumku.
Karena mereka sesungguhnya belum memahami ajaranajaranmu. Tuhan, sebagaimana Nabi Isa pernah berkata kepadamu, bila Engkau menyiksa bangsa ini, mereka tetap adalah hambahambamu. Tapi bila Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha Agung dan Maha Bijaksana (Qs.Al- Maidah: 118).
Penulis: Alumnus Al-Azhar Kairo, Peneliti pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta
Sumber: Harian Seputar Indonesia, Rabu 07 Oktober 2009
0 comments:
Poskan Komentar