Subhanallah,,sungguh indah CiptaanNya

Subhanallah,,sungguh indah CiptaanNya
Gunung Sawal, desa Panjalu, Ciomas, Jawa Barat

Selasa, 22 Februari 2011

Pengelolaan Sampah di Kampus ITB (Gimana yaa??)




Hai Bloggerz..

Pengen berbagi sedikit cerita nih mengenai pengelolaan sampah di kampus ITB..Mudah2an bisa memberi inspirasi untuk diterapkan di kampus lain di Indonesia..

Go Eco-campus Movement!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ada yang tau ga, kalo sampah di kampus kita setelah dibuang di tempat sampah terpilah yang warna item-putih , terus dikemanain yaa?

Dari hasil survey terhadap 350 responden, TERNYATA OH TERNYATA hanya 26% mahasiswa ITB yang tau kalo sampah kita diangkut dan diolah di Pusat Pengolahan Sampah Sabuga (PPS SABUGA)..Weleh Weleh.....

hmm....Mungkin ini yang ngebuat pada males memilah sampah kali ya? "karena byk yg berpendapat, toh entar juga sampah nya disatuin lagi"..Bener Ga sih? yuk kita telusuri perjalanan sampah di kampus kita..

Cekidot!!

Alur Perjalanan Sampah dikampus kita gimana sih?

Tempat Sampah Terpilah >>>> Pengangkutan oleh mobil pengangkut sampah >> Pusat Pengolahan Sampah Sabuga



Hmm..lalu di Pusat Pengolahan Sampah (PPS) Sabuga diapain aja sih sampahnya?



Jadi di PPS SABUGA sendiri ada beberapa alur pengolahan,yaitu :

PENGOMPOSAN

Di PPS SAbuga, sampah yang dapat mudah membusuk (potongan rumput, dedaunan kering, sisa makanan kantin,dll) akan dikomposkan menjadi pupuk Organik dengan produk "KOMPOS GANESHA"..Wah, mantap tuh!yang butuh kompos, beli aja kompos Ganesha..


Pengomposan di PPS Sabuga


DIJUAL KE BANDAR

Nah, lalu yang sulit membusuk seperti kertas,kardus, botol, logam,dan barang lain nya yang memiliki nilai ekonomis (laku utk dijual ke Bandar) akan dikumpulkan dan disalurkan tersendiri.


Sampah yang terpilah untuk di jual ke Bandar


INSENERASI

Lalu, sampah yang tidak memiliki nilai ekonomis diapain? ternyata ITB membuat sebuah mesin pembakar (insenerator) yang dibakar pada suhu yang relatif tinggi dan juga dilengkapi dengan alat pengendali pencemaran udara yang bernama Cyclone.


Pembakaran sampah dengan teknologi Insenerator


Dari pembakaran ini, akan diperoleh debu atau abu sisa pembakaran yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan seperti batako, pot bunga, dll.


Abu hasil pembakaran insenerator jadi BATAKO cap ITB..hehe


Pesan dari Direktorat Sarpras :

  • Hindari Pemakaian Kemasan Makanan dari Bahan Styrofoam!


Hal tsb karena keterbatasan kemampuan dr sarana pengolahan sampah saat ini belum mampu untuk mengolah sampah yang berasal dr bahan styrofoam, dan juga styrofoam tidak baik untuk kesehatan (karsinogenik). Oleh karena itu, diharapkan agar warga kampus ITB tidak memesan makanan yang dikemas dgn menggunakan kemasan styrofoam



  • Membantu Memilah sampah dari sumber (mudah membusuk dan sulit membusuk)


Seluruh Civitas akademika dapat berpastisipasi dengan memilah sampah sesuai jenisnya karena akan sangant membantu proses pengelolaan selanjutnya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah, Sahabat2 Kampus ITB yang cerdas2, gimana setelah mengetahui pengelolaan sampah kampus kita? ternyata sistem pengelolaannya sudah ada yah..Mudah2an menjawab dan memberi sedikit informasi, kalau SAMPAH di ITB tuh ada sistemnya loh.

Tapi sayang nih, pada kenyataannya kondisi kampus kita seperti berikut (jangan takut ya melihat gambar dibawah ini, hehe) :


ini waktu tahun 2009 akhir, di tempat sampah deket altim, sekarang udah pake bak yang lebih besar sih..Tapi liat coba yang mengesalkannya..itu Sampah styrofoam nya maakkkjaangg..




Nah, ini salah satu contoh buruk perilaku anak2 ITB di RUang 32 CC barat ..Buang SAmPAH pada tempatnya AJA GA BISA! Ini yah yang katanya anak2 TERBAIK NEGERI INI? GA yakin tuh..




Pemesanan Konsumsi untuk kegiatan masih banyak nih yang pake Styrofoam..ckckck


"Jadi Kalo LO ANAK ITB! Bantu dong bapak2 yang setiap hari harus mengolah sampah kita biar lebih lancar pekerjaannya. Kasian kan kalo mereka Waktu kerja nya harus nambah lagi untuk memilah sampah di PPS SABUGA."

(duh, ,maaf-maaf, kebawa esmosii nih gara2 kasian ngeliat kerjaan bapak2 disana yg milah2 teruuuzz.)

Tapi di Balik itu Semua...

Ternyata temen2 lembaga baik himpunan dan unit pun membuat suatu program yang dapat mendukung sistem pengelolaan sampah di kampus ITB. Mau tau apa aja kegiatan yg dilakukan teman2 lembaga yang concern banget nih ke pelestarian lingkungan...Jeng Jeng Jeng,,siapakah merekaaa???

Mereka adalaah.............

  • HMTL (Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan)


di HMTL ternyata sudah ada 6 jenis pemilahan sampah di dalam himpunaan dan juga tempat sampah khusus untuk kertas di seluruh sudut gedung Teknik Lingkungan.


6 jenis pemilahan sampah di HMTL (kertas,Tetrapak,bungkus kemasan,sampah organik,anorganik, dan botol plastik)..Gambar2. Tempat pemilahan sampah kertas, untuk di daur ulang atau dipakai lagi yang sisi nya masih kosong


Selain itu, sistem perkuliahan di TL, terutama untuk laporan praktikum, dan juga draft Tugas Akhir untuk bimbingan, menggunakan kertas bekas yang sisinya masih kosong (REUSE PAPER).

  • IMA-G (Himpunan Mahasiswa Arisitektur)


Himpunan Mahasiswa Arsitektur pun membangun suatu sistem pemilahan sampah untuk kertas dan botol plastik yang dilakukan oleh tim SAMANTHA (Sebuah kelompok minat yang ada di IMA-G).


Pemilahan sampah di Gedung arsitektur


Selain itu , himpunan mahasiswa arsitektu juga sangat concern terhadap tertib publikasi dengan sistem One Paper One Board,


Kampanye "One Paper One Board"


dengan salah satu tujuannya mengurangi sampah kertas dari publikasi acara (REDUCE PAPER).

  • HIMATEK (Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia)


Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia dengan tim Eco-Che nya telah membangun suatu sistem pengelolaan sampah di Program studi nya, dengan menambahkan tempat sampah khusus tetrapak (aseptik) selain tempat sampah yg mudah membusuk dan sulit membusuk.


tempat sampah di gedung Teknik Kimia



  • UGREEN


Teman2 U-Green juga concern dalam mengkampanyekan sistem pengelolaan sampah di kampus dan setiap anggotanya untuk memilah sampah. Salah satu program U-Green adalah WARUNG KERTAS. Sebuah kegiatan Daur Ulang terhadap sampah kertas untuk diproduksi menjadi kertas kembali (RECYCLE PAPER).


recycle paper


Luar Biasa yah apa yang dilakukan oleh temen2 lembaga tersebut. Mudah2an gerakan mereka dapat terus kontinu (berkelanjutan).

Pengelolaan sampah di kampus kita tidak akan berjalan dengan baik, jika tidak didukung oleh seluruh civitas akademika ITB itu sndiri, terutama oleh mahasiswa2nya..

Ternyata Percuma jika Infrastruktur dan PERATURANnya sudah GREEN tetapi PERILAKU/ATTITUDE kita masih tidak tertib. Untuk itu dibutuhkan suatu gerakan bersama dalam membangun GREEN ATTITUDE tersebut, mulai dari berbagai hal kecil, tetapi berdampak besar.

hmm..

Apa yah contohnyaa???

ADa beberapa hal yang bisa banget nih kita lakukan..

Misalnya :

  • Yuk Kita mengganti KULTUR PERANG AIR saat wisudaan, yang ternyata satu himpunan saja bisa sampai 8000 plastik, dan membuang air bersih begitu saja.

  • Mari Kita TIDAK lagi MENGGUNAKAN STYROFOAM di setiap acara yang kita bikin.

  • Sudah saatnya kita membawa BOTOL MINUM dan TEMPAT MAKAN SENDIRI untuk mengurangi pembelian botol plastik air kemasan, dan juga bungkus plastik untuk makanan

  • Dan tentu sudah saatnya pula kita mengurangi konsumsi Kantong KRESEK dengan cara memakai kembali kantong kresek yang sudah kita simpan, atau dengan membawa tas yang praktis dan dapat menjadi wadah pengganti kantong kresek.

  • Yuk kita Memilah sampah,cuma dua jenis ko, ga suliitt,,

  • Ayo kita mengurangi publikasi dengan media kertas, karena kertas dari pohon, dan deforestasi semakin meningkat di Indonesia. Ganti yuk dengan media maya.sekarang lebih trend loh.. (bisa contoh tuh publikasi nya M-FEST HMM, dan juga BIOFRONT nya NyMPHAEA..PAPER LESS banget loh booooo..hehe


Jadiiiiii...sudah saatnya kita semua berperan, berkolaborasi, dan bergerak..

Untuk Kampus yang kita cintaii, untuk lingkungan sekitar, dan untuk alam bumi ini..

A small thing, will give a big impact..

Let's think Globally, and Act Locally

Walau usaha sekecil apapun,temen2 sudah menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,,karena menjaga lingkungan itu simple sih..intinya gimana supaya kita ga berlebihan, agar alam ini dapat tetap mensupport untuk kehidupan anak cucu kita kelak..

p.s : "Dengan teman2 menyebarkan informasi ini, teman2 telah membantu mengkampanyekan pengelolaan sampah agar kampus ini turut menjadi bagian dari Solusi, bukan menjadi sumber masalah untuk Lingkungannya.."

Mohon maaf sebelumnya kalo ada kata yang kurang berkenan kelak..masih belajar menulis..

Terima kasiihh =)

Salam Kolaborasi,

Muhammad Fariz-15306054

"Let's collaborate through ecocampus movement"

Senin, 21 Juni 2010

“Bagaimana pandangan Kearifan Lokal terhadap permasalahan Banjir??”



“Banjiiirrr banjiiirrr!!!!” Kayaknya orang Indonesia udah akrab banget deh ama istilah Banjir. Tiap kali hujan deras dikit aja pasti langsung banjirrrr. Bahkan banjir merupakan salah satu peristiwa menyenangkan bagi anak-anak dibeberapa wilayah di Jakarta (karena bisa main air,”horeee”). Tahun 2010 ini aja banjir terjadi di beberapa daerah di Indonesia, seperti Palembang, Palangkaraya, Makassar, Sidoarjo, Jambi, Pasuruan, dan tentunya langganan banjir yaitu Jakarta dan Wilayah Bandung Selatan. Oleh karena itu tidak heran jika peneliti Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Muhammad Aris Marfai mengungkapkan bahwa Indonesia menempati urutan ketiga di dunia sebagai negara yang paling rawan dan paling sering dilanda bencana banjir, setelah India dan China.

Lalu, bagaimana mengatasi permasalahan banjir ini? Apakah dengan membersihkan selokan dari sampah? Apakah dengan memperlebar saluran air? Jawabannya iya, akan tetapi kurang tepat loh,hehe. Penyebab utama terhadap permasalahan banjir adalah kurangnya daerah resapan air. Pembangunan yang semakin membabi buta menjadikan alih fungsi lahan, yang asalnya tanah untuk resapan berganti menjadi beton-beton jumlahnya semakin meningkat tak terkendali. Paradigma pembangunan drainase yang berkelanjutan adalah menahan air selama-lamanya di hulu, bukan paradigm Belanda dulu yang konsepnya adalah mengalirkan air secepat-cepatnya ke hilir (makanya dibuat saluran air yang besar-besar).
Bagaimana pandangan para leluhur kita, terutama masyarakat Sunda yang sangat terkenal dengan kearifan lokal nya terhadap pengelolaan cai (air). Salah satu pandangan masyarakat Sunda adalah “Leuweung ruksak, cai beak, ra’yat balangsak ” (Hutan rusak, air habis, rakyat sengsara). Ayo,coba apa maksudnya? Bahkan asal kata ”Sunda” sendiri (orang sunda sendiri banyak yang ga tau loh!) berasal dari kata “SUN DA HA”, yang mengandung arti SUN adalah Diri, DA adalah Alam dan HA adalah Tuhan. Artinya kearifan lokal dapat digambarkan dengan mengidentifikasi tiga ranah (domain) tempat kearifan lokal itu berlaku. Ranah pertama adalah ”DIRI”, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia; kedua, ”ALAM”, yaitu hubungan manusia dengan alam; dan ketiga ”TUHAN”, hubungan manusia dengan Tuhan atau Sang Pencipta.
Jadi kaitannya adalah Leuweung (Hutan), sebagai suatu ekosistem di alam yang memiliki banyak fungsi, terutama fungsi serapan air, ”KUDU” (Harus) pisan dijaga oleh masyarakat Sunda itu sendiri. Hal ini dikarenakan air merupakan DASAR utama kebutuhan manusia, dan tanpa air manusia akan sengsara. Selain itu, semakin tingginya debit air hujan yang tak terserap, akan mengalir ke daerah hilir. Banjir di daerah Bandung Selatan, dan juga di Jakarta yang selalu terjadi saat musim hujan, penyebab utamanya adalah semakin kritisnya daerah hulu, Kawasan hulu Bandung Utara, dan juga kawasan BOPUNCUR (Bogor-Puncak-Cianjur).
Lalu bagaimana pandangan masyarakat Sunda terhadap pembagian tata ruang wilayah. Dalam menentukan tata ruang wilayah, masyarakat sunda berpedoman kepada DAS (Daerah Aliran Sungai). Pemetaan titik-titik mata air beserta aliran sungai kemudian dihitung berdasarkan kebutuhan dan disesuaikan dengan kondisi dari wilayah atau kawasan tersebut. Berdasarkan pemetaan dan pengamatan di kawasan dengan pendekatan kearifan lokal Sunda ini maka akan didapat berapa luasan hutan yang dijadikan sebagai Leuweung Larangan/Titipan, Leuweung Tutupan , dan Leuweung Baladahan . Leuweung larangan dikenal juga sebagai kawasan lindung.



Leuweung larangan dan leuweung tutupan merupakan suatu kawasan yang tidak boleh dirubah dan diganggu gugat dari keadaan asalnya, baik habitatnya maupun sistemnya. Wilayah ini diperuntukkan sebagai zona penyedia kebutuhan pelestarian sumber kehidupan. Lalu daerah mana yang boleh digarap oleh manusia? Leuweung Baladaheun lah yang menjadi pusat aktivitas keduniawian masyarakat. Wilayah ini berfungsi Sebagai pusat produksi dan ekonomi masyarakat (pemukiman, perkebunan, pertanian, perikanan, dll).
Upaya pengendalian daerah lindung tersebut menjadi tugas bersama kita, terutama masyarakat lokal yang berada disekitar daerah larangan tersebut. Masyarakat lokal tersebut perlu diingatkan untuk menjaga daerah larangan tersebut karena merupakan amanah/titipan dari para leluhur untuk terus melestarikan “budaya” Sunda untuk keberlanjutan hidup manusia. Pemerintah pun perlu mendukung penerapan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, melalui kebijakan yang tegas agar kepentingan pribadi dapat mengorbankan kepentingan bersama, bahkan mendatangkan bencana untuk kehidupan masyarakat banyak. Jika semua dapat terwujudkan, tentunya bencana seperti banjir, krisis air, longsor, dan lainnya akan dapat ditanggulangi untuk keberlajutan hidup manusia

Dan satu hal yang paling penting buangeett..
Ternyata Kearifan lokal kita sangat lah luar biasaaa..
Banyak yang harus kita eksplor lagi nih tmen2 terkait kebudayaan kita..Yang jelas, kita harus bangga dengan kebudayaan bangsa kita sendiri. Jangan sampai kita generasi muda melupakan kebudayaan bangsa kita sendiri. Sehingga bangsa kita kehilangan jati dirinya..
Bangsa kita memiliki budaya nya sendiri,,budaya itu adalah kebiasaan kan? tapi kebiasaan kita udah berorientasi terhadap budaya asing,,budaya saat ini hanya dikenal sebagai kesenian belaka, musik belaka, bukanlah menjadi suatu kebiasaan masyarakat kita..

Akankah budaya kita hilang ditelan zaman??
Akankah budaya kita tergantikan oleh kebiasaan buruk dari luar sana?